Minyak Brent Menguat ke USD95,16 per Barel di Tengah Sentimen Pasar

Minyak Brent Menguat ke USD95,16 per Barel di Tengah Sentimen Pasar

Harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan Senin (1/6/2026), setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat. Kenaikan harga terjadi setelah Iran dilaporkan menangguhkan negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) menyusul serangkaian serangan baru yang terjadi selama akhir pekan serta meningkatnya operasi militer Israel di Lebanon.

Mengutip data Investing.com, Selasa (2/6/2026), harga minyak mentah Brent berjangka untuk kontrak Agustus, yang menjadi patokan minyak global, naik 4,4 persen menjadi USD95,16 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berjangka untuk kontrak Juli melonjak 5,6 persen menjadi USD92,30 per barel.

Kenaikan tersebut menjadi momentum pemulihan setelah harga minyak mengalami tekanan sepanjang Mei akibat harapan pasar terhadap tercapainya kesepakatan damai antara Washington dan Teheran.

Iran Hentikan Negosiasi dengan AS

Sentimen pasar berubah setelah kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan bahwa Teheran menghentikan sementara dialog dan pertukaran pesan dengan AS melalui mediator.

Keputusan tersebut disebut dipicu oleh meningkatnya aktivitas militer di Lebanon serta dugaan pelanggaran gencatan senjata yang masih berlangsung di berbagai wilayah konflik. Selain itu, Iran juga dikabarkan mempertimbangkan langkah untuk memblokir Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi rute utama perdagangan energi dunia.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyatakan belum menerima informasi resmi mengenai penghentian pembicaraan tersebut. Trump menegaskan proses negosiasi dengan Iran masih terus berlangsung dan berkembang dengan cepat.

Brent Catat Bulan Terburuk Sejak 2020

Meski mengalami lonjakan pada awal Juni, harga minyak sebelumnya mencatat kinerja bulanan yang buruk sepanjang Mei. Minyak Brent turun 18,5 persen selama bulan lalu, menjadi penurunan bulanan terbesar sejak Maret 2020.

Sementara itu, minyak WTI terkoreksi 16,9 persen sepanjang Mei, yang menjadi penurunan bulanan terdalam sejak April 2025.

Tekanan tersebut dipicu ekspektasi pasar bahwa kesepakatan damai AS-Iran akan membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz dan mengurangi risiko gangguan pasokan energi global.

Selat Hormuz Masih Jadi Faktor Penentu

Selat Hormuz tetap menjadi fokus utama pasar energi global. Jalur perairan strategis tersebut merupakan salah satu rute terpenting bagi distribusi minyak dunia dan selama konflik berlangsung mengalami gangguan signifikan terhadap arus pengiriman.

Analis menilai apabila kesepakatan damai berhasil dicapai dalam waktu dekat, harga minyak berpotensi turun secara bertahap dalam beberapa kuartal ke depan. Namun sebaliknya, jika Selat Hormuz tetap tertutup dalam jangka panjang, risiko lonjakan harga minyak akan semakin besar.

Analis Deutsche Bank, Jim Reid dan David Folkerts-Landau, memperkirakan harga Brent dapat turun menuju USD86 per barel pada kuartal IV 2026 apabila kesepakatan AS-Iran tercapai dan aktivitas pelayaran kembali normal.

Namun, mereka juga memperingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan berpotensi mendorong harga Brent mendekati USD150 per barel. Skenario tersebut dinilai dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi global, meningkatkan inflasi, serta memicu risiko resesi di sejumlah kawasan ekonomi utama.

Risiko Inflasi Global Meningkat

Kenaikan harga energi akibat konflik geopolitik juga diperkirakan memberikan tekanan terhadap inflasi global. Para analis menilai lonjakan harga minyak telah mengurangi prospek pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 sekaligus meningkatkan ekspektasi pengetatan kebijakan moneter oleh berbagai bank sentral.

Ketidakpastian mengenai konflik Timur Tengah dan masa depan Selat Hormuz diperkirakan akan terus menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga minyak dunia dalam beberapa pekan mendatang.