Rupiah Hari Ini Dibuka di Posisi Rp18.070 per Dolar AS

Rupiah Hari Ini Dibuka di Posisi Rp18.070 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah kembali dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa, 28 Juli 2026. Pelemahan mata uang Garuda terjadi di tengah penguatan tipis dolar AS menjelang keputusan kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) serta meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar terhadap sejumlah sentimen global dan domestik.

Mengutip data Bloomberg, rupiah berada di level Rp18.070 per dolar AS pada pembukaan perdagangan. Posisi tersebut melemah 61 poin atau 0,34 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp18.009 per dolar AS.

Sementara itu, berdasarkan data Yahoo Finance pada waktu yang sama, rupiah diperdagangkan di level Rp17.990 per dolar AS. Posisi ini menunjukkan pergerakan yang masih fluktuatif dibandingkan pembukaan perdagangan sehari sebelumnya di level Rp17.968 per dolar AS.

Rupiah Diperkirakan Masih Bergerak Fluktuatif

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan nilai tukar rupiah masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan hari ini.

Menurutnya, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp18.010 hingga Rp18.060 per dolar AS.

Ibrahim menjelaskan, salah satu sentimen domestik yang memengaruhi pergerakan rupiah adalah pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia. Di sisi lain, tekanan eksternal juga masih membayangi pasar keuangan, terutama menjelang keputusan suku bunga The Fed.

Konflik Timur Tengah Masih Jadi Perhatian Pasar

Selain faktor domestik, pelaku pasar juga terus memantau perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Meskipun Amerika Serikat telah menghentikan operasi militernya terhadap Iran, kondisi tersebut masih dipandang sebagai jeda sementara dalam eskalasi konflik.

Investor juga mencermati upaya diplomasi yang melibatkan Tiongkok untuk mendorong pembicaraan damai antara Washington dan Teheran.

Di sisi lain, gangguan distribusi energi global masih menjadi perhatian. Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan masih lebih rendah dibandingkan kondisi normal selama akhir pekan. Arus kapal di Selat Bab el-Mandeb juga tercatat melambat, sehingga meningkatkan kewaspadaan pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi dunia.

Kombinasi ketidakpastian geopolitik, ekspektasi arah kebijakan moneter The Fed, serta dinamika kepemimpinan Bank Indonesia diperkirakan masih akan menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah dalam jangka pendek.