Ketidakpastian Perdamaian AS-Iran Dorong Penguatan Terbatas Dolar AS

Ketidakpastian Perdamaian AS-Iran Dorong Penguatan Terbatas Dolar AS

Dolar Amerika Serikat (AS) menghapus kerugian dan ditutup menguat tipis pada perdagangan Selasa, 2 Juni 2026, di tengah meningkatnya ketidakpastian terkait perkembangan negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi ini mendorong pelaku pasar mencari aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.

Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, tercatat berada di level 99,22. Penguatan tersebut terjadi setelah muncul pernyataan yang saling bertentangan mengenai kelanjutan perundingan antara Washington dan Teheran.

Iran kembali menyatakan bahwa pertukaran pesan dengan Amerika Serikat telah dihentikan. Namun, Presiden AS Donald Trump dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio menegaskan bahwa komunikasi dan negosiasi masih terus berlangsung. Ketidakjelasan informasi tersebut membuat pasar keuangan global bergerak fluktuatif, sementara harga minyak mengalami kenaikan.

Ketegangan geopolitik meningkat setelah operasi militer Israel di Lebanon serta aksi saling serang di kawasan Teluk yang melibatkan kelompok-kelompok yang didukung Iran. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah dan memengaruhi sentimen investor global.

Selain faktor geopolitik, dolar AS juga mendapat dukungan dari data ekonomi domestik yang lebih kuat dari perkiraan. Laporan Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan di Amerika Serikat mencapai 7,618 juta pada April 2026, jauh di atas ekspektasi pasar sebesar 6,860 juta.

Data tersebut mengindikasikan pasar tenaga kerja AS masih cukup solid dan berpotensi membuat Federal Reserve mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi ini menjadi faktor positif bagi dolar AS.

Sementara itu, yen Jepang melemah terhadap dolar AS untuk sesi keempat berturut-turut. Pasangan USD/JPY naik ke level 159,91 dan mendekati angka psikologis 160 yang selama ini dianggap sebagai batas yang dapat memicu intervensi pemerintah Jepang di pasar valuta asing.

Di Eropa, euro bergerak relatif datar di level USD1,1629. Inflasi tahunan zona euro pada Mei 2026 tercatat sebesar 3,2 persen, sesuai dengan perkiraan pasar, didorong oleh kenaikan harga energi yang signifikan.

Pelaku pasar kini menantikan data ketenagakerjaan Amerika Serikat bulan Mei yang akan dirilis pada akhir pekan ini. Data tersebut diperkirakan menjadi salah satu faktor utama yang menentukan arah pergerakan dolar AS dan ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve dalam waktu dekat.