Harga Bitcoin melemah pada perdagangan Rabu, 14 Oktober 2026, setelah laporan inflasi konsumen Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi dari perkiraan meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed).
Dikutip dari Investing, Kamis, 15 Oktober 2026, Bitcoin turun 1,9 persen menjadi USD81.931,2. Penurunan juga terjadi pada pasar kripto secara keseluruhan, melanjutkan tren pelemahan pada awal Oktober akibat aksi ambil untung atau profit-taking serta meningkatnya sikap menghindari risiko (risk aversion).
Kekhawatiran terhadap kenaikan harga minyak di tengah ketegangan militer yang berlanjut di Timur Tengah turut menekan sentimen pasar aset kripto.
Inflasi AS Tingkatkan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed
Pelaku pasar kripto mencermati laporan indeks harga konsumen (CPI) AS terbaru yang dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja AS.
Pada September 2026, CPI umum tercatat naik 0,6 persen secara bulanan, sedangkan CPI inti meningkat 0,3 persen. Kenaikan CPI inti tersebut melampaui perkiraan sebesar 0,2 persen, sementara CPI umum sesuai dengan estimasi pasar. Angka CPI umum juga lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,4 persen pada Agustus.
Secara tahunan, CPI umum naik 3,7 persen dan CPI inti meningkat 2,6 persen. Kedua indikator tersebut menunjukkan percepatan dibandingkan bulan sebelumnya.
Kenaikan harga energi menjadi salah satu faktor penting yang mendorong inflasi. Indeks harga bensin melonjak 9,1 persen secara bulanan pada September dan menyumbang lebih dari separuh kenaikan CPI umum. Sementara itu, indeks harga energi meningkat 20,4 persen secara tahunan.
Data tersebut kembali memunculkan kekhawatiran bahwa The Fed dapat menaikkan suku bunga pada Oktober, setelah ekspektasi pengetatan kebijakan moneter sebelumnya mereda akibat sejumlah indikator ekonomi AS.
Berdasarkan perangkat CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada akhir Oktober meningkat menjadi sekitar 37 persen, dari hampir 22 persen sebelum laporan CPI dirilis.
Lingkungan suku bunga tinggi cenderung menekan aset spekulatif seperti Bitcoin dan kripto lainnya. Kondisi tersebut juga berpotensi memperkuat dolar AS, yang tercatat menguat pada Rabu.
Wall Street turut mengalami tekanan setelah rilis data inflasi. Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS sempat melonjak tajam sebelum tekanan jual mereda menjelang akhir sesi perdagangan.
Investor selanjutnya menantikan laporan indeks harga produsen (PPI) AS yang dijadwalkan terbit pada Kamis untuk memperoleh petunjuk tambahan mengenai arah kebijakan suku bunga. Komponen CPI dan PPI juga menjadi masukan dalam perhitungan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), indikator inflasi yang menjadi perhatian utama The Fed.
Arus Masuk ETF Bitcoin Sempat Menahan Penurunan
Di tengah tekanan pasar, arus masuk dana ke produk exchange-traded fund (ETF) spot Bitcoin sempat membantu menahan penurunan harga aset kripto tersebut.
Data SoSoValue menunjukkan arus masuk dana ke ETF Bitcoin spot mencapai USD175,6 juta pada Selasa. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dalam hampir dua minggu terakhir.
Arus masuk ini mengindikasikan pemulihan minat investor setelah ETF Bitcoin spot mengalami penarikan dana sebesar USD681 juta pada pekan sebelumnya.
Arus modal ke ETF Bitcoin spot sempat meningkat tajam pada kuartal III 2026, tetapi melambat pada pekan pertama Oktober.
Harga Altcoin Turut Melemah
Penurunan harga juga meluas ke sejumlah aset kripto lainnya. Ether, aset kripto terbesar kedua di dunia, turun 3,4 persen menjadi USD2.427,20, sedangkan XRP melemah 2,5 persen.
BNB terkoreksi 1,6 persen, Solana turun 2,1 persen, dan Cardano melemah 3,2 persen.
Sementara itu, memecoin $TRUMP turun 0,8 persen dan Dogecoin terkoreksi 3 persen.
Pelemahan mayoritas aset kripto tersebut mencerminkan tekanan sentimen pasar akibat meningkatnya ekspektasi suku bunga, penguatan dolar AS, serta ketidakpastian geopolitik dan harga energi.
