Pramono Resmikan Embung Bambu Hitam dan Batu Bangkong di Jakarta Timur

Pramono Resmikan Embung Bambu Hitam dan Batu Bangkong di Jakarta Timur

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo meresmikan Embung Bambu Hitam dan Embung Batu Bangkong di Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, Senin pagi.

Kedua embung yang dibangun Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta pada 2025 itu memiliki total kapasitas tampungan 36.550 meter kubik. Infrastruktur tersebut menjadi bagian dari upaya Pemprov DKI memperkuat pengendalian banjir melalui penampungan air hujan dan konservasi sumber daya air.

“Embung Batu Bangkong dan Embung Bambu Hitam dibangun oleh Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta pada 2025 melalui pendekatan biru hijau dan solusi berbasis alam atau Nature-based Solution. Dibangun sebagai sarana pengendali sumber daya air, sumber air baku, sekaligus ruang interaksi publik,” kata Pramono.

Kapasitas Embung Batu Bangkong dan Bambu Hitam

Embung Batu Bangkong berdiri di atas lahan 1,3 hektare dengan luas badan air 0,58 hektare dan kapasitas tampungan 20.300 meter kubik.

Sementara Embung Bambu Hitam memiliki luas lahan sekitar 2,1 hektare, luas badan air 0,50 hektare, serta kapasitas tampungan 16.250 meter kubik.

Pramono mengatakan embung berfungsi menahan dan menampung air hujan agar tidak langsung membebani sistem drainase dan aliran sungai. Air yang tertampung juga dibiarkan meresap untuk mendukung konservasi.

“Fungsi utama dari embung ini yaitu untuk tempat penampungan air. Jadi bukan kemudian dialirkan, tapi air itu meresap di sini. Sehingga, dengan demikian namanya menjadi tempat untuk konservasi,” papar Pramono.

Kedua embung juga dilengkapi instalasi pengolahan air limbah, jalur joging, taman bermain anak, balai warga, lapangan multifungsi, dan sunken plaza. Fasilitas tersebut dapat digunakan masyarakat saat kondisi kering, sementara area embung menjadi tampungan tambahan ketika hujan.

Pengendalian Banjir Berbasis Pencegahan

Pramono menegaskan penanganan banjir harus dilakukan melalui pencegahan berkelanjutan. Pemprov DKI terus mengembangkan infrastruktur pengendali air, termasuk embung, waduk, dan normalisasi sungai.

Ia juga melihat potensi pengembangan embung di Jakarta Timur untuk memperkuat kapasitas tampungan air.

“Pemerintah DKI Jakarta dalam hal berkaitan dengan penanganan banjir tidak hanya serta-merta kalau hujan baru dilakukan kegiatannya ataupun penanganannya. Kita lebih pada pencegahan, sehingga saya minta karena sudah bagus dan digunakan secara gratis oleh warga, tetapi saya minta perawatannya betul-betul ditangani secara baik,” ujar Pramono.