Bank Indonesia (BI) memastikan akan terus meningkatkan intensitas intervensi di pasar valuta asing guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang masih berada dalam tekanan hingga menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan pergerakan rupiah tetap sesuai dengan fundamental ekonomi nasional.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, mengatakan intervensi dilakukan secara berkelanjutan melalui berbagai instrumen, mulai dari transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Selain intervensi pasar, BI juga memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter yang lebih menarik bagi investor guna menjaga aliran modal masuk ke aset domestik. Koordinasi dan komunikasi dengan pelaku pasar serta korporasi juga terus ditingkatkan untuk menjaga stabilitas sektor keuangan.
Menurut Destry, tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang mendorong harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan risiko inflasi global. Kondisi tersebut turut memicu arus keluar modal dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dari sisi domestik, kebutuhan valuta asing yang tinggi untuk repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri juga menjadi faktor yang menekan nilai tukar rupiah. Meski demikian, BI menilai pelemahan rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang regional, dengan depresiasi sekitar 7,44 persen sejak awal tahun.
Bank sentral juga memastikan kondisi cadangan devisa Indonesia tetap kuat, yakni sebesar 146,2 miliar dolar AS pada akhir April 2026. Selain itu, BI terus mendorong penggunaan mata uang lokal melalui skema Local Currency Transaction (LCT) bersama sejumlah negara mitra guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan meminimalkan risiko volatilitas nilai tukar.
