Perdagangan Lesu, Dolar AS Naik Tipis di Pasar Valas

Perdagangan Lesu, Dolar AS Naik Tipis di Pasar Valas

Pergerakan mata uang global cenderung terbatas pada Jumat, 3 April 2026, seiring sikap hati-hati investor menghadapi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Selain itu, likuiditas pasar yang relatif tipis akibat libur Jumat Agung turut membuat pergerakan pasar valuta asing berlangsung lebih tenang.

Mengutip Investing.com, dolar AS tercatat stabil setelah sebelumnya menguat sekitar 0,4 persen pada sesi perdagangan sebelumnya. Penguatan ini didorong meningkatnya sentimen penghindaran risiko setelah komentar Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait potensi eskalasi konflik dengan Iran.

Ketegangan AS-Iran Jadi Perhatian Pasar

Trump menyatakan bahwa Washington dapat meningkatkan aksi militer dalam beberapa minggu mendatang. Dalam unggahan terpisah, ia juga memperingatkan kemungkinan penargetan infrastruktur penting seperti jembatan dan pembangkit listrik di Iran.

Meski demikian, sentimen investor sempat menunjukkan stabilisasi setelah Iran mengungkapkan tengah bekerja sama dengan Oman untuk menyusun kerangka kerja pengelolaan lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Langkah tersebut sedikit meredakan kekhawatiran pasar terkait potensi gangguan pasokan energi melalui jalur minyak utama dunia tersebut.

Yen Stabil, Rupee India Menguat

Di pasar Asia, pasangan mata uang dolar AS terhadap yen Jepang atau USD/JPY diperdagangkan relatif datar di kisaran 159,61 yen per dolar. Nilai tersebut mendekati level psikologis 160 yen yang menjadi perhatian pasar.

Pemerintah Jepang melalui Menteri Keuangannya juga memperingatkan bahwa otoritas siap mengambil langkah terhadap pergerakan spekulatif di pasar valuta asing yang berpotensi meningkatkan volatilitas.

Sementara itu, pasangan dolar AS terhadap won Korea Selatan (USD/KRW) dan dolar Singapura (USD/SGD) tercatat relatif stabil. Di sisi lain, rupee India menunjukkan penguatan dengan pasangan USD/INR turun 0,3 persen menjadi 92,71 rupee pada Jumat.

Penguatan ini terjadi setelah mata uang India sempat menyentuh rekor tertinggi 95,22 rupee per dolar pada awal pekan. Secara mingguan, rupee diperkirakan menguat lebih dari dua persen terhadap dolar AS.

Langkah stabilisasi dilakukan oleh Reserve Bank of India dengan membatasi posisi valuta asing terbuka bersih perbankan serta melarang penawaran kontrak forward non-deliverable kepada klien. Kebijakan tersebut memicu pelepasan posisi spekulatif besar dan mendorong penjualan dolar di pasar domestik.

Di kawasan lain, pasangan dolar AS terhadap yuan Tiongkok (USD/CNY) tercatat turun sekitar 0,1 persen. Data terbaru menunjukkan sektor jasa China mengalami perlambatan pada Maret, dengan indeks PMI Jasa Ratingdog turun menjadi 52,1 dari 56,7 pada Februari yang merupakan level tertinggi dalam 33 bulan.

Selanjutnya, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat, khususnya laporan penggajian non-pertanian atau Non-Farm Payrolls yang diperkirakan memberikan petunjuk tambahan mengenai arah kebijakan suku bunga oleh Federal Reserve.